Diary PMIK III: Semesta Turut Merayakan (Pernikahan Usamah dan Siti Rohimah)
Hari bahagia telah tiba. Hari yang sakral. Sepasang kekasih telah siap mengikrarkan janji untuk melaksanakan ibadah paling krusial. Tepat hari Senin tanggal 10 September 2024, akad diikrarkan oleh mempelai pria. Begitu gagah, sebab telah berani menjemput kekasih dengan cara yang Allah ridhoi.
Usamah yang biasa dipanggil Usem. Nama mempelai pria yang masyhur dikalangan penduduk Wisma Nusantara. Siti Rohimah, perempuan teduh, penyayang anak kecil. Keduanya bagian dari keluarga besar PMIK. Mempelai wanita berjalan anggun menuju tempat ijab qobul. Sepersekian detik, suasana berubah menjadi syahdu. Doa-doa dari keluarga mempelai pun dipanjatkan. Nasihat pernikahan pun ikut mengantarkan kedua mempelai menggapai ridho Allah SWT. Mata kami berbinar merasakan bahagia yang berjuta rasa melihat bersatu dua insan dalam mahligai pernikahan.
Cahaya mentari menerobos kaca jendela seakan tidak ingin melewatkan moment indah yang tak bisa ditafsirkan oleh frasa. Ornamen putih ikut membagikan keanggunan bagi setiap ruang mata para saksi. Semesta turut merayakan. Renyah tawa anak kecil nan manis saling berpapasan. Teriakan histeris dari kaum muda-mudi terdengar nyaring, saat mempelai malu-malu berpegangan tangan. Ah, padahal mereka sudah halal. Sebuah moment dengan perpaduan yang sangat indah.
Jumpalah pada sesi perkenalan. Para sahabat dan kerabat menjadi saksi, saling menyampaikan bahwa mereka kenal baik dengan kedua mempelai.
Sudut mata penulis melirik hal yang menarik dari salah seorang teman terdekatnya. Namanya Dahri, ia adalah salah satu sahabat terdekat Usamah. Seuntai puisi ia sajikan khusus untuk pernikahan sahabatnya.
“Teruntuk teteh si perempuan bahagia, tentang mang Usem yang terlalu mekar senyumannya”
Saya kenal bang Usem sewaktu kami berkhidmah di PMIK. Saya staf baru sedang beliau waktu itu jadi kepala.
Pria berkarisma sebagai ciri khasnya ketika berkhidmah. Emang sudah paling tepat pilihannya teh Imah.
Berkacamata, berambut ikal, sedikit berisi memang ciri fisiknya.
Tapi loyal, setia, dan sifat kepemimpinan sudah jadi urat nadinya.
Sosok pria yang penuh kepedulian dan tanggung jawab.
Walau usia kami masih seumur jagung, tapi sisi tanggung jawabnya ndak tanggung tanggung.
Kalo bisa dibahasakan dengan bahasa politik yang kaku, Saya kira bang Usem sebelas dua belas dengan pak Ahmad Syaikhu.
Pertanda loyalitas dan kepantasan ndak bisa dinilai dari luar, tapi timbul muncul dari jiwa kepemimpinan yang selalu mekar.
Kata orang, sifat kedewasaan seseorang bisa dilihat ketika dia dihadapkan pada suatu masalah.
Saya rasa, bagi bang Usem tak ada satu masalah yang berarti dalam kehidupannya, biasanya perasaan Saya jarang salah ya…
Entah emang beliau terlalu dewasa atau masalahnya yang terlalu belia.
Saya rasa, sudah sempurna jiwa dewasanya.
Saya juga pernah bekerja bersama bang usem di suatu matham martabak.
Bukan hanya masak martabak, tapi yang saya dapat juga pelajaran akhlak.
Sabar menghadapi keadaan pelanggan yang berjiwa anak anak.
Saya rasa, bang Usem sudah terlalu pantas tuk’ jadi seorang bapak-bapak.
Tak terlalu congkak, bila dibilang martabaknya enak.
Tak terlalu acak, bila dibilang tak pandai memasak.
Di sekitaran matham kami, martabak kami terkenal dengan kebersihannya.
Saya kira bersih karena sering dipel dan disapu, ternyata bersih hati pelanggan karena dapat kata merayu.
Seakan tutur bahasa bang Usem ini menjadi kicauan burung penenang hati yang selalu ditunggu.
Jadi bisa dipastikan bang Usem ini tipikal suami yg ramah dan tidak akan KDRT seperti kasus yang viral itu. (Sontak seluruh tamu undangan tertawa).
Waktu itu kalo Ane tidak salah ingat, bang Usem bilang gini tentang teh Imah. Ri, Antum tau kepanjangan Rohimah ndak, Ri?
Ape tuh, bang?
R : Rangkaian cinta yang tulus
O : Oleh hatiku yang terpaut padamu
H : Harapan akan kebahagiaan bersama
I : Ibarat mentari yang setia menghangatkan
M : Membawa rasa cinta yang tak tergoyahkan
A : Andaikan waktu bisa berhenti saat bersamamu
H : Hanya kaulah yang menghiasi hari-hariku.
Rohimah, perempuan bahagia, cerdas dan teguh menegakkan nilai-nilai Islam.
Sepertinya bang Usem pernah bilang, Rohimah itu kepanjangannya Rohana kudusnya Usamah.
Walau puisi saya sedikit terkesan memaksa
Tapi beginilah sosok bang Usem dalam bentuk bahasa.
Saya kira, testimoni saya cukup segini tentang bang Usem
Dan saya kira, sosok suami idaman memang his middle name“.
Puisi dari Dahri menjadi pelengkap di hari pernikahan Usamah dan Siti Rohimah, sekaligus penutup acara.
Selamat menempuh hidup baru bang Usamah dan Siti Rohimah. Semoga menjadi keluarga yang selaras dengan hadits Nabi “Sakinah, mawaddah, warahmah“.
Mengemban bahtera rumah tangga setenang dan seteduh senyum keduanya.
Penulis : Reen Ummi

Leave a Reply