“Tentang Mahasiswa yang Menyimpan Ibunya di Dalam Toples” ( Juara 1 Lomba Cipta Cerpen Nasional Harlah PMIK Mesir ke-33)
Oleh: Raffael N. M.
Kelingking kiri Zulkifli hilang pagi ini, tepat saat ia lupa kelanjutan Nazham Alfiyah bait ke-100.
Ia tidak panik. Di apartemen terbawah kawasan Qarafa—Kota Mati—hal-hal gaib sama lumrahnya dengan kucing yang mengorek sampah. Zulkifli hanya menatap sisa jarinya yang tumpul, lalu kembali mengulen adonan.
“Kurang air,” gumamnya, serak.
Di Kairo, nostalgia adalah penyakit klinis. Bagi Zulkifli, mahasiswa tingkat akhir (yang sudah memasuki tahun ke-13), nostalgia berpengaruh pada fisiknya. Tiap kali ia melupakan tujuannya datang ke Mesir—untuk menjadi ulama—satu ruas jarinya akan memendek. Tiap kali ia berbohong pada ibunya di kampung soal wisuda, kulitnya akan meretak dan mengeluarkan debu.
Namun, Zulkifli tidak peduli pada tubuhnya yang perlahan tergerus. Ia hanya peduli pada adonannya. Itu bukan adonan biasa, itu “Ibu”.
Sedekade lalu, saat mendarat di Kairo dengan koper berisi rendang dan harapan, ia membawa setoples ragi dari ibunya di Sumatera. Sepanjang itu, ia memberi makan ragi dengan tepung Mesir dan air Nil, mengawinkannya dengan bakteri udara Darrasah yang berbau rempah dan asap knalpot.
Baginya, Ibu tidak ada di kampung. Ibu hidup dan berbuih di toples itu. Selama adonannya mengembang, Zulkifli merasa masih punya rumah.
“Sebentar lagi matang, Bu,” bisiknya pada adonan yang menggeliat.
Angin dingin bulan Januari menyusup lewat jendela, membawa suara yang paling dibenci penduduk Kota Mati: Gaaarrrrr…
Deru buldoser.
“Ya Zulkifli! Buka!”
Itu suara Fatih. Juniornya di organisasi, yang ironisnya kini menjabat sebagai ketua, sementara Zulkifli masih menjadi anggota.
Zulkifli membuka pintu. Debu reruntuhan makam menyerbu masuk. Fatih berdiri di sana, mengenakan kufiyah. Di belakangnya, siluet monster besi menjulang, moncongnya siap melahap apartemen Zulkifli.
“Ente gila? Orang-orang sudah ke Nasr City! Hukumah kasih waktu sampai asar sebelum gedung ini diratakan buat flyover!”
Zulkifli kembali ke dapurnya. Ia menaburkan tepung. “Ragi Ibu butuh kehangatan, Fatih. Kalau dipindah sekarang, dia mati.”
“Itu cuma adonan! Wallahi, ente bisa beli aish baladi di warung cuma dua pound dapat lima!”
“Ini bukan aish biasa,” Zulkifli menekan adonan dengan jarinya yang sisa sembilan. “Ini sejarah. Ente anak baru, mana paham rasanya talaqqi di lantai dingin dan rindu pulang tapi malu karena belum jadi apa-apa.”
“Ana paham,” Fatih frustrasi. “Tapi nostalgia enggak bisa nyelamatin nyawa! Lihat tangan Abang!” Fatih menunjuk tangan kiri Zulkifli.
Zulkifli menyembunyikan tangannya. Ia baru saja berbohong dalam hati—meyakinkan diri bahwa ia bertahan demi “sejarah”.
Zap. Jari manis kirinya memendek seruas.
“Abang harus evakuasi! Mobil organisasi sudah siap,” Fatih melembutkan suara. “Skripsi Abang mana? Paspor? Selamatkan dokumen-dokumennya dulu.”
“Skripsi…” Zulkifli tertawa. Tawa itu memicu batuk. Dari mulutnya, keluar debu-debu. “Skripsi itu… mitos, Fatih, seperti burung phoenix.”
“Zul, sadar!” Fatih mencengkeram bahu seniornya. “Abang terjebak di masa lalu! Kairo sudah berubah. Tremco sudah enggak ada, dan Darrasah mau jadi beton semua. Abang mau jadi martir buat apa? Kenangan?”
Zulkifli menepis tangan Fatih. “Ente bicara modernisasi. Ente lupa, di tanah ini,” ia mengentak-entakkan kakinya, “ada ribuan ulama dikubur. Ada berkah yang kalian gilas!”
“Tapi Abang masih hidup! Jangan mati konyol bareng batu nisan!”
Gaaarrrr mengeras. Toples ragi “Ibu” bergeser ke tepi meja.
“Pergi,” kata Zulkifli. “Senior ente lagi sibuk.”
“Sibuk apa? Melamun?”
“Sibuk menjaga satu-satunya hal yang asli di kota ini.”
Fatih menggeleng, kasihan dan marah. “Ana tunggu di ujung gang sepuluh menit. Kalau enggak keluar-keluar, ana anggap Abang sudah jadi bagian dari sejarah.”
Pintu terbanting. Zulkifli sendirian lagi. Hanya dia, adonan roti, dan jari-jari yang terus memendek—ia tahu, jauh di lubuk hati, Fatih benar.
Buldoser itu tidak menunggu bermenit-menit.
KRAK. Cahaya matahari mendadak masuk ke dalam dapur yang remang. Bukan lewat jendela, lewat dinding yang baru saja runtuh.
Debu-debu mengepul. Zulkifli terbatuk-batuk hingga memuntahkan kerikil.
Moncong besi itu masuk, merobek poster jadwal salat tahun 2015 yang masih tertempel. Atap mulai rontok.
Logika manusia normal pasti memerintahkan kaki untuk lari. Tapi, Zulkifli bukan manusia normal; ia adalah monumen kegagalan yang berjalan.
Alih-alih lari keluar, ia menerjang ke arah oven di dapur. Ia menyalakan pemantik. Api menyala.
“Sedikit lagi matang, Bu,” racau Zulkifli. Ia memasukkan loyang, lalu memeluk oven panas itu seolah memeluk tubuh ibunya.
Langit-langit di atasnya mengerang. Balok beton patah.
Zulkifli terpejam. Ia mencium aroma itu. Bukan bau debu, bukan bau sampah Kairo. Tapi, bau ragi, bau tangan ibu yang membedakinya saat kecil.
“Zulkifli pulang, Bu…”
Sebongkah beton jatuh, menghantam lantai, tepat di sampingnya. Guncangan itu melemparnya. Gelap menelan segalanya.
Zulkifli terbangun—dingin, bukan panas.
Ia terbaring di puing-puing. Langit sudah gelap. Tapi, lampu-lampu proyek membuat suasana seperti siang. Debu beterbangan.
“Dia sadar! Bawa air!” Suara samar-samar.
Zulkifli duduk. Kepalanya pening. Ia melihat-lihat. Apartemennya rata. Dapurnya hilang. Ovennya gepeng.
“Ibu…”
Ia menunduk, mencari-cari sisa roti. Tidak ada. Hancur, menyatu dengan tanah makam. Sepuluh tahun merawat ragi, hilang dalam sepuluh detik.
Ia lalu melihat tangannya.
Zulkifli terkesiap. Ia mengangkat kedua tangannya ke depan wajah.
Sepuluh jari.
Kelingking kirinya ada. Jari manisnya utuh. Kulitnya mulus, tidak ada retakan, tidak ada debu yang keluar dari pori-porinya.
Tubuhnya utuh.
Seketika, kenyataan menghantamnya lebih keras dari beton: penyakit nostagianya sembuh. Bersamanya, “kutukan” itu hilang. Tidak ada lagi masa lalu yang bisa dipeluk. Tidak ada lagi “Ibu” dalam toples yang menahannya di apartemen itu.
Ia bebas. Tapi, kebebasan itu terasa kosong dan menakutkan.
Di dekat kakinya, tergeletak sebuah buku yang selamat dari reruntuhan: Fathul Mu’in, kitab kuning yang dibelinya di Atabah saat tahun pertama kuliah. Kitab yang ia janjikan pada ibunya akan dikhatamkan.
Dengan tangan gemetar—yang kini sempurna dan asing—Zulkifli memungut kitab itu. Ia membukanya.
Matanya menelusuri huruf-huruf Arab itu.
Ia mengerutkan kening. Keringat dingin mengucur.
Ia melihat alif, lam, mim. Tapi otaknya diam. Ia mencoba mengeja kata-katanya. Bisu.
Huruf-huruf itu tampak seperti cacing hitam yang menggeliat tak bermakna. Ia mencoba mengingat kaidah nahwu, rumus shorof. Kosong.
Zulkifli menangis. Bukan karena rumahnya hancur. Bukan karena rotinya hangus.
Ia menangis, sadar bahwa Tuhan telah mengembalikan jari-jarinya, tetapi sebagai gantinya, Dia telah mengambil ilmunya.
Nostalgia telah menyelamatkan hatinya selama ini, tapi juga membunuh masa depannya. Kini, saat nostalgia itu diruntuhkan, Zulkifli hanyalah turis asing yang buta huruf di Ardhul Anbiya.
Di seberangnya, papan reklame baru menyala, menampilkan iklan apartemen mewah di New Administrative Capital. Cahayanya menyoroti wajah Zulkifli, menerangi seorang lelaki yang utuh namun kosong.
Tentang Penulis:
Raffael, sehari-hari menyamar sebagai mahasiswa jurnalistik yang mencoba memotret kebenaran. Malam hari adalah filsuf amatir yang mencoba memehami mengapa kopi di Bandung lebih bisa dipegang janjinya daripada beberapa teori politik. Menulis adalah caranya menertawakan kekacauan itu. Instagram: @raffaelnm

Leave a Reply