“Perdu” (Juara 3 Lomba Cipta Cerpen Nasional Harlah PMIK ke-33)
Oleh : Muhammad Gema Samudera
Tidak. Mustahil bagiku untuk bisa jatuh membenci boneka porselen putih beningku. Sekeras apa pun ia menghardik, mengoyak hatiku. Sejahat apa pun ia menghina dinakan harga diriku. Bahkan sedingin apa pun tatapan mata kacanya memandangku saat ini.
Karena lihatlah! Bagaimanapun tadi ia meraung-raung penuh penyesalan, meratap histeris memecah plafon kayu gubuk sederhana padang gembala kami, ia bahkan masih menghidangiku bubur gandum hitam buatan tangan halusnya itu.
Dibalik bilah pintu kamar, lirikan mataku sampai kepada sosok kecil yang bingung, takut-takut mengintip interaksi kami. Oh… pastilah itu si kecil Louis. Ia tentu tidak mengenalku.
Aku takzim bersusah payah memasukkan sesuap demi sesuap, meskipun berulang kali pula bubur itu hanya mengalir keluar dari celah sebesar kepalan tangan di pipiku dan berjatuhan pada lantai kayu.
“Maaf… ma-maaf,” aku canggung meminta maaf di bawah tatapannya. O, Tuan… begitu telak tatapan itu menusuk sanubariku.
“Ah, kalau begitu aku hanya akan minum a—,” Sial sekali! Kali ini giliran gelas air yang entah bagaimana tersenggol dan jatuh berkelontangan di lantai. Terburai berserak-serak.
“Désolé… désolé…,” aku patah-patah menggapai air ke bawah sebab memang nyatanya susah bergerak jika cuma memiliki satu kaki.
“Sudahi ini, Thomas,” boneka porselenku akhirnya bersuara.
Matanya semerah saga, bibirnya berat, suaranya bergetar. Ia getir.
“Sudahi ini…” Maria menggeleng halus. Menatapku. Dengan tatapan yang bahkan menusuk lebih sakit dari tatapan dingin. Mata kaca itu semakin bening dengan air mata.
“Kau seharusnya mati, Thomas… Ini bukan dirimu. Ini bukan dirimu, sayang.”
Aku tertunduk semakin dalam. Bubur masih menetes dari sela gigi dan gompal wajahku. Aku mendesis-desis menelannya.
“Begitu burukkah rupaku hingga engkau enggan melihatku lagi, Maria?”
“Aku…” Maria tercekat. “Aku sudah menikah, Thomas. Tolong jangan persulit ini… kumohon.”
Lidahku kelu. “Jangan… jangan pula kau hancurkan hatiku, Maria. Biarlah tubuhku saja yang hancur masai. Biarkan… Jangan hatiku.”
“Keluar…”
Aku bergeming.
“KELUAR!”
—
Kepada willow aku mengadu sedari dahulu. Ia telah menangis bersama sekalian orang Babilonia dan perjalanan umat manusia sampai ia ditanam di sebelah rumah gubuk padang gembala ini. Air mata hijaunya melambai-lambai mengelus atap genteng, diiringi angin pegunungan Andorra. Dan di sore yang cemerlang emas itu pula kami bersandar ke pohon bersahaja itu.
Maria terkekeh; ia tidak tahan lagi kugelitiki sampai tertawa tersedak-sedak. “Akan kau namai siapakah bayi di dalam perutku ini, kanda?” ucapnya kemudian menghentikan candaku.
Aku menatap awan.
“Louis… Louis Léon Clerc.”
Tidak ada kalimah dari Maria. Ia hanya menatapku dalam. “Sebuah nama yang berani, kupikir.”
“Barang tentu, mi amor.”
“Kelak dia akan bermata kaca sepertimu, berbudi baik sepertiku.”.
Maria mendengus. “Lantas apakah tingkahku begitu jahat, heh?!”
Aku tertawa. “Tentu dia juga akan begitu halus perilakunya sepertimu, dinda. Ia akan tumbuh menjadi punggawa istana nomor wahid sehingga sekalian manusia di kerajaan ini terkesima tiap kali melihatnya. Akan kuajak dia menulis sajak-sajak yang menenangkan hati. Dan kugendong ia melihat bintang gemintang, agar ia berani bermimpi sampai ke bulan. Sesekali ia akan kuajak bersepeda ke Sungai Garonne dan memancing trout hingga larut sore. Memperkenalkan padanya apa itu perjalanan, menunggu, dan kesaktian waktu. Kupastikan penghidupannya lengkap, agar tunai kewajibanku sebagai pengampu hidupnya. Begitu manis, bukan?”
Maria hanya diam. Matanya mengerjap.
“Maria?”
Bersandar ia di dadaku. “Aku beruntung telah menikahimu, Thomas.”
—
Di larut malam, setiap hari, aku dan Maria akan bersenandung menyanyikan Au Clair de la Lune. Sebuah nyanyian tidur yang entah bagaimana selalu sukses menerbangkan kami ke awan dan mengajak kami bertegur sapa dengan bintang sekeluarga, awan seibu-bapak, juga bulan yang hobi menyendiri.
Kuperhatikan lamat-lamat Maria bersenandung sambil memejam mata. Tangannya mengelus perut bunting. Ia menatapku. Mengelus perut lagi, lalu mencium keningku. Aku balas mengecup perutnya. Dan kami kemudian tertidur berkat nyanyian rakyat surgawi itu.
Kelak, ketika Louis lahir, setelah seharian bekerja untuk dunia, kami akan menyanyikan senandung itu kepada Louis hingga ia tertidur. Lalu kami duduk pada teras kayu menatap padang rumput inggris yang syahdu, juga siluet Phleum pratense yang tinggi-tinggi di kejauhan menyenggol pagar kayu jalan tanah raya. Dihujani cahaya bulan berinai-rinai.
“Aku takut kita gagal menjadi orang tua yang baik,” ucapnya suatu malam.
“Ketakutan bisa menjadi bahan bakar kita untuk belajar lebih banyak, Maria.”
“Apakah kita bisa menjalaninya?”
Aku menggenggam tangan Maria. Mencium dan meletakkannya pada dadaku.
“Berdua, aral melintang akan kita hadapi. Demi anak kita.”
Semua begitu indah jika kuingat-ingat, sampai esok harinya empat orang tinggi berzirah mengunjungi rumah sederhana kami. Aku semenjak lama telah tahu bahwa kerajaan kami sedang berseteru dengan pasukan diraja Inggris nun jauh di pesisir utara sana. Tapi aku tidak mengira bahwa negara kami kalah demikian hebat hingga memaksa satu laki-laki dari tiap keluarga untuk terjun ke medan laga.
Berderai air mata Maria saat itu. Persis sebagaimana yang kulihat saat ini ketika ia membentakku untuk keluar dari rumah kami. Ia memikirkan apa yang juga kupikirkan. Kelu… lidahku kelu membayangkan nasib Maria dan Louis tanpa sosok suami lagi ayah.
Dia hanya memandangi punggungku ketika aku berangkat. Tanpa perpisahan, tanpa doa. Hanya lambaian tangan.
Dan apa yang kuingat kemudian adalah aku yang menggigit besi di mulut, dan dirasuki aroma mesiu yang pekat. Begitu dekatnya kami dengan kematian hingga kami seperti menatap Tuhan di depan muka.
Semua dari kami mati pada pertempuran itu kecuali aku. Wajahku telak dihantam busur. Kaki kananku menjanda tanpa pasangannya. Aku pulang dalam keadaan habis tak berbentuk. Ah… memanglah perang menghancurkan segalanya.
—
Aku terduduk di atas rumput. Pohon willow masih menangis.
Di dalam, Louis berdiri menarik-narik ujung baju Maria yang terpaku di atas kursi. Sempurna menjelma patung. Air mata masih deras mengalir melewati pipinya. Dan ia tidak menatapku sama sekali. Tidak menatap ke mana pun. Mungkin menatap jauh ke dalam dadanya sendiri. Kuanggap saja hatinya remuk redam.
Tidak ada yang menginginkan perpisahan ini.
Bayangan kisah cinta kami berkelebat berkilat kilat dibelakang mataku. Momen demi momen, mozaik demi mozaik. Dari situlah aku insaf bahwa Maria memang mencintaiku.
Dan bahwasanya apa apa yang perlu dilakukan, terkadang juga begitu sakit lagi mengerikan.
Pelan-pelan matahari kembali menampakkan cahayanya setelah seharian malu-malu menyaksikan seteru dua manusia.
Dari jauh kulihat, di bawah cahaya matahari itu, sebaris keluarga: ibu dan dua anaknya. Dirantai. Digiring entah ke mana.
Kemanakah ayah mereka?
Aku menunduk dalam-dalam. Maria akan baik-baik saja.
Tidak. Aku tidak akan bisa setitik pun marah kepadanya.

Leave a Reply