“The Vegetarian”
Judul Buku : The Vegetarian
Penulis : Han Kang
Jumlah hal : 222 Halm
Penerbit : Penerbit Baca
Tahun terbit : Juni 2025
Genre : Fiksi
ISBN : 978-623-8371-35-8
Ulasan :
(Ini bukan resensi. Ini pengalaman membaca yang dituangkan dalam sebentuk tulisan berkedok ulasan)
Apa yang anda harapkan dari ulasan mahasiswa pembelajar agama tentang sebuah novel berjudul The Vegetarian yang ditulis Han Kang. Bukan bidangnya untuk membahas metafora-metafora imajinatif yang mencekam dalam tulisannya. Bukan pula ia ahli dalam menganalisis aliran feminis mana penulis karya tersebut. Apalagi kalau diminta mengelaborasi mazhab seni Performance Art yang ditonjolkan di bagian kedua bukunya, hal itu seperti wakil pejabat suatu negara diminta untuk rajin membaca buku. Jelas tidak mampu, atau barangkali belum waktunya. Tapi juga, apa salahnya jika wakil tersebut mencobanya, sedikit-sedikit membacanya. Kalau nanti banyak keliru, yaa, harap dimaklumi.
Balik ke topik ulasan untuk sebuah novel yang sudah lama naik daun, namun masih terasa relevan. The Vegetarian yang menetas tahun 2007 berhasil mencatat nama penulisnya di benak para pembaca novel sedunia. Faktanya, novel tersebut memang membawakan semangat emansipasi yang sedang dan terus berkembang saat ini, sehingga tidak heran banyak pembaca yang sudah jatuh cinta walau masih di halaman pertama.
Novel tersebut relatif singkat, berjumlah 220 halaman ukuran A5 dalam edisi terjemahan (oleh Dwita Rizki) atau 8 – 10 jam pembacaan. Meski begitu, dengan karakter surealis yang mewarnai hampir seluruh bagiannya, novel ini menuntut perhatian lebih untuk tidak dibaca secara gampangan. Metafora yang sangat imajinatif digunakan bertubi-tubi hampir di setiap plotnya. Belum lagi sudut pandang yang berubah tiap babak. Kiranya, dari segi gaya tulisan, novel ini termasuk kategori novel-serius.
(Paragraf selanjutnya akan membahas beberapa unsur kepenulisan fiksi dalam sebuah karya. Pendeknya, caraku menilai sebuah buku)
Siapa yang menyangka sebuah pohon adalah perwujudan manusia yang berdiri dengan tangannya? Permisalan tersebut hanya satu contoh dari sekian banyak penggunaan bahasa figuratif lainnya. Tidak ada yang mengira sebuah keinginan untuk bersetubuh digambarkan dengan kabel colokan dan stop kontak yang teranggur polos di suatu ruangan? Dalam dunia fiksi dimana realitas diciptakan, digambarkan, dan disampaikan melalui kata demi kata, penggunaan bahasa figuratif yang indah, segar, dan mencekam sangat menentukan nilai suatu karya. The Vegetarian dalam hal ini tidak akan membuat Anda kecewa.
Meski demikian, suatu karya fiksi juga ditentukan dari seberapa bobot idenya yang dibawa. The Vegetarian mengandung cerita seorang wanita yang memperjuangkan kebebasan tubuh dan kehendak yang dimilikinya. Bermula dari obsesi puasa memakan daging sampai bercita-cita menjadi sebatang pohon, menggambarkan bahwa keinginan manusia itu bisa aneh-aneh. Namun, dari situlah dilemanya, kehendak siapa yang mesti dikorbankan? Berangkat dari norma etika-subjektif, sulit menghakimi apakah wanita itu salah? Belum lagi semisal ternyata obsesi wanita itu disebabkan oleh ayahnya, lalu apakah wanita itu menjadi benar tindakannya. Yang jelas, dilema inilah yang membuat novel ini menarik.
Berbeda dari kebanyakan novel lainnya, The Vegetarian bisa dibilang bukan tipikal novel bergaya kitab suci, novel yang jauh dari kesan menggurui. Tentu tidak ada maksud merendahkan suatu jenis novel dalam dunia literatur, karena bagus-tidaknya suatu karya selalu ditentukan berdasakan konteks tempat karya itu lahir, yang barangkali masyarakat di sana masih butuh diperjelas inti dan maksud novel tersebut. Namun begitu, suatu fiksi juga selalu membutuhkan misteri yang dapat memberi ruang bagi pemirsa untuk menafsirkannya secara mandiri. Hal ini yang biasa disebut ambiguitas dalam makna, berbanding lurus dengan mahalnya suatu karya, yakni semakin bermisteri maka semakin berkelas.
Jika ditanya apa yang paling mahal dari The Vegetarian, jawabannya terletak pada kelogisan alur ceritanya. Tentu logis disini bukan berarti realis, karena faktanya The Vegetarian adalah novel semi-surealis. Logis dalam hal ini berarti walaupun cerita dalam novel terdengar absurd di dunia nyata, novel itu tetap membuat anda lupa sedang membaca cerita. The Vegetarian adalah cerita yang logis, yang asik, masuk akal, dan tidak tiba-tiba.
oleh: Rizki Aulia

Leave a Reply