Deprecated: Optional parameter $panel declared before required parameter $sections is implicitly treated as a required parameter in /home/pmikmesi/public_html/wp-content/themes/diksia/core/customizer/class-customizer.php on line 42
Membaca Koherensi Antara Islam, Otoriterianisme, dan Ketertinggalan (Sebuah Resensi) – PMIK MESIR
RESENSI BUKU

Membaca Koherensi Antara Islam, Otoriterianisme, dan Ketertinggalan (Sebuah Resensi)

istimewa

Judul Buku : Islam, Otoriterianisme, dan Ketertinggalan
Penulis : Ahmet T. Kuru
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun Terbit : 2020
Jumlah Halaman : 486 Halaman
Genre : Keislaman Umum
No. Inventaris (PMIK) : B-11.434

Ketika berbicara tentang Sejarah Islam, kebanyakan referensi yang kita temui bermuara pada sisi sejarah yang positivistik. Semacam rentetan sejarah yang dilalui oleh satu peristiwa ke peristiwa yang selanjutnya. Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. Mula-mula diceritakan sejak awal mulai ia muncul . Fase ini biasa disebut dengan Sirah Nabawiyyah, Genealogi dan biografi Nabi Saw. Setelah itu berlanjut ke fase Khulafaur Rasyidin yang empat, kemunculan dinasti Umayyah dan keruntuhannya, kemudian kemunculan dinasti Abbasiyyah dan keruntuhannya, hingga keruntuhan Dinasti Ottoman pada 1924.

Pembicaraan sejarah yang tertutup ini berfokus pada fenomena dan peristiwa pada setiap fasenya. Namun berbeda dengan Ahmet T. Kuru. Melalui bukunya, Islam, Otoriterianisme, dan Ketertinggalan, beliau berusaha membuka pandangan kita terhadap sejarah Islam secara holistik. Terutama dalam perspektif sosiologis, budaya, politik, ekonomi, hingga militer. Pembahasan ditujukan untuk menggambarkan kondisi negara Islam pada waktu itu tidak hanya pada sisi fenomena dan peristiwa, namun dibarengi dengan penafsiran sejarah.

Buku ini terlepas dari pembahasan teologis dan ortodoks. Murni sebagai penggambaran kondisi masyarakat, negara, dan para intelektual pada zaman itu. Kendati demikian, adanya korelasi antara aspek teologis dan sosiologis membuat penulis mengangkat beberapa perkara yang patut menjadi pertimbangan. Salah satu pembahasan yang menarik untuk diulas adalah adanya asumsi kemunduran Islam yang disebabkan oleh gaya pendidikan Islam yang berubah menjadi kaku dan ortodoksi pasca-kemunculan Hujjatul Islam Al-Imam Al-Ghazali. Kemunculan beliau pada abad 11 Masehi yang digambarkan sebagai Era Keemasan Islam, menjadi titik tolak adanya kemunduran di masa setelahnya. Ketiadaan sosok-sosok seperti Ibnu Sina, Ibnu Miskawaih, Al-Kindi, hingga Al-Farabi setelah kematian Sang Imam dipahami sebagai akibat dari kitab beliau yang fenomenal dalam mengkritik para filusuf muslim, “Tahafut Al-Falasifah”.

Fenomena seperti maraknya pengkafiran atas beberapa kaum muslim yang saling bertentangan menjadikan upaya intelektualisasi yang spektrum menjadi terhambat. Label takfir yang Sang Imam sematkan kepada para para filusuf muslim pada masa itu menjadikan kaum muslimin tidak bergairah dalam mempelajari ilmu non-keislaman. Bermulalah kemudian degradasi dunia Islam dalam bidang sains, teknologi, kedokteran, dsb. Namun tak hanya berhenti sampai disana. Penulis kemudian mengkomparasikan beberapa pendapat lain yang membantah adanya kemunduran dalam dunia Islam akibat dari keberadaan Al-Imam Al-Ghazali. Hal ini bisa ditinjau dari adanya para intelektual muslim yang terus memberikan kontribusi dalam dunia non-keislaman. Hanya saja memang perlu diakui bahwa telah terjadi kemunduran secara bertahap hingga dimulainya masa kolonialisme barat pada abad 17.

Buku ini sangat cocok untuk dibaca bagi para peneliti dan yang ingin memperluas pandangannya dalam dunia Islam. Metode Deskriptif yang penulis uraikan juga referensi yang memadai menjadi daya tarik untuk melihat Islam yang lebih spektrum dan kompleks. Hanya saja, ada beberapa bagian yang mengharuskan pembaca lebih teliti dalam menerima penafsiran sejarah yang penulis uraikan. Agar tidak terjerumus dalam konfirmasi bias belaka juga tendensi yang tidak diperlukan.

 

Penulis: Sayyid Muhibbullah

Post Related

Leave a Reply

Your email address will not be published.