“Surat” (Juara 2 Lomba Cipta Cerpen Nasional Harlah PMIK ke-33)
Oleh: Ilham Wahyudi
Untuk kesekian kalinya, aku berlari dari halaman cerpen kantor kepala desa sambil menenteng setumpuk amplop. Panas matahari belum juga menyingkir dari ubun-ubun. Keringatku menetes, aku tak peduli. Sebab ada yang sedang menunggu di ujung kampung sana—mungkin Pak Darmin, mu-ngkin juga Mbak Sumarni yang setiap minggu datang ke kantor desa, menanyakan surat dari suaminya di Kalimantan.
Secepat kilat aku melesat di antara jalan tanah yang mulai retak karena kemarau. Di tangan kiriku, amplop-amplop putih terikat karet gelang, bergoyang mengikuti langkahku. Kadang keringat jatuh di kertasnya, menerbitkan bintik samar yang mengering sebelum sampai tujuan.
Setiap kali tukang pos dari kecamatan datang, surat-surat itu tak langsung ke rumah. Semua harus mampir dulu ke kantor kepala desa, dan begitulah aturannya sejak dulu.
Teman-teman sebaya memanggilku “Tukang Surat Cilik.” Orang-orang tua senang menjulurkan senyum tatkala aku datang menenteng amplop dan berkata, “Ada kabar dari anakmu di Sumatra, Bu.” Sesekali permen yang mereka berikan, pernah pula uang lima puluh perak, dan kadang hanya seulas senyum. Aku suka melihat perubahan wajah mereka: dari cemas menjadi lega, dari diam menjadi ramai.
Menjadi tukang surat cilik sudah sejak kelas dua SD aku lakukan. Waktu itu, tukang pos telat datang dan telat pula mengantarkan surat ke rumah-rumah warga. Orang-orang kampung seperti kehilangan kabar dari dunia luar. Banyak yang gelisah, termasuk ibuku yang menunggu surat dari kakaknya di Blitar, yang katanya mau mengirim uang untuk biaya sekolahku. Aku pun berpikir: menunggu itu pekerjaan paling menyiksa di dunia. Jadi aku tidak mau orang lain menunggu lama.
Kadang temanku, Jumar, ikut membantuku. Kami sebaya, tapi tubuhnya lebih tinggi dan kulitnya lebih gelap dariku. Sumpah, ia tak secepat aku kalau berlari, hanya saja ia lebih cakap berbicara dengan orang dewasa—ketika tengah mengantar surat.
“Enak ya, No, kalau semua surat isinya kabar baik,” katanya suatu sore sambil menuntun sepeda kami. “Tapi kalau kabar buruk?”
Aku menjawab, “Ah, surat itu cuma tulisan. Yang bikin senang atau sedih kan orangnya.”
Suatu hari aku mengantarkan surat ke rumah Bu Marsih. Ia perempuan tua yang tinggal sendirian. Anak tunggalnya kerja di Surabaya sebagai sopir truk. Surat itu datang sebulan sekali. Begitu aku menyerahkan amplop, ia langsung menangis.
“Kenapa, Bu?”
“Anakku nulis, dia mau pulang bulan depan. Katanya mau beliin aku radio bekas.”
Aku tersenyum.
***
Tidak semua surat membawa kebahagiaan. Pernah suatu sore aku membawa surat untuk Pak Darmin. Ia petani tua yang sering main catur di warung Pak Bejo. Waktu kuberikan surat itu, wajahnya berubah. Ia membaca cepat, kemudian keningnya berkerut.
“Dari siapa, Pak?”
“Dari adik saya di Banyuwangi.”
Ia menatap sawah di kejauhan, dan berbisik, “Ibu meninggal.”
Aku tak tahu harus berkata apa saat itu. Ia menatapku, lalu menepuk bahuku pelan. “Terima kasih, No.”
Dalam perjalanan pulang, aku merasa dada ini sesak. Untuk pertama kalinya aku sadar, sebuah surat ternyata bisa membuat seseorang menangis tanpa suara.
***
Malam-malam di kampungku selalu sunyi. Hanya ada suara jangkrik dan sesekali radio dari rumah tetangga. Biasanya lagu slow rock dari negeri jiran—Isabella atau Suci Dalam Debu—berputar dari radio butut milik Pak RT. Ibuku kadang menyapu sambil ikut bersenandung.
“Kenapa diam, No?” tanya Ibu suatu malam.
Aku sedang duduk di lantai, menatap amplop kosong yang kupungut dari tempat sampah kantor desa.
“Enggak, Bu. Cuma mikir, kalau orang nulis surat, sebenarnya mereka pengin apa sih?”
Ibu tertawa pelan. “Macam-macam. Ada yang mau ngabarin, ada yang mau minta maaf, ada juga yang sekadar bilang rindu.”
“Kalau yang nerima malah sedih, gimana?”
Ibu berhenti menyapu. “Ya, berarti hidupnya sedang diuji.”
Aku tak mengerti sepenuhnya, tapi aku simpan kata-kata itu.
***
Akhirnya hari yang mengubah caraku melihat surat selamanya, tiba. Pagi itu tukang pos datang lebih awal. Ia meletakkan tumpukan surat di meja, lalu pergi buru-buru. Aku membantu Pak Lurah menyusunnya. Dan di antara amplop-amplop itu, mataku berhenti pada amplop yang warnanya agak pudar: Untuk Sumarni.
Aku ingin membuatnya tersenyum kali ini. Maka, aku pun berlari lebih cepat dari biasanya. Rumahnya tampak sepi. Aku mengetuk pintu beberapa kali. Tak ada jawaban. Selang beberapa saat, kudengar langkah pelan dari dalam.
“Siapa?”
“Saya, Mbak. Seno. Ada surat dari suaminya.”
Pintunya terbuka. Dari celahnya, muncul wajah pucat dengan rambut agak kusut. Matanya merah. Namun ketika melihat amplop di tanganku, matanya mendadak berubah—seperti nyala lampu petromaks di malam nan gelap.
“Dari suamiku, ya?” suaranya bergetar.
Aku mengangguk. Ia cepat-cepat membukakan pintu, menerima surat itu dengan dua tangan.
“Terima kasih, Seno. Tunggu sebentar, ya.”
Ia pergi ke dapur dan kembali membawa sepiring pisang goreng dan segelas teh manis. Aku memakannya pelan, sementara ia duduk di kursi kayu, membuka surat itu dengan hati-hati.
Aku berpura-pura tak melihat, tapi dari sudut mata aku melihat tangannya bergetar. Ia membaca cepat, dan berhenti di tengah. Tiba-tiba aku lihat matanya kosong. Wajahnya pucat.
“Ada apa, Mbak?”
Ia tidak menjawab. Hanya memandangi surat itu beberapa saat, kemudian tersenyum—senyum yang aneh, kaku, seperti senyum orang yang baru saja mengetahui sesuatu yang pahit.
“Sudah sore, Seno. Pulang, ya.”
Nada suaranya datar. Tak ada terima kasih. Tak ada pamit.
Aku keluar perlahan. Saat menoleh, ia masih berdiri di sana, memandangi surat yang kini diremas di tangannya.
Malamnya, aku mendengar suara air dari sungai. Macam ada yang jatuh. Aku tak peduli. Keesokan paginya, kampungku mendadak ramai. Orang-orang berkerumun di pinggir sungai. Aku mendengar bisik-bisik: Sumarni ditemukan di tepi air, tadi subuh.
Tubuhku seketika dingin. Aku teringat amplop biru yang kemarin kubawa. Teringat pada matanya yang kosong, senyum anehnya, dan suaranya yang datar.
Sejak itu, aku tak lagi datang ke kantor desa. Pak Lurah beberapa kali memanggil, tapi aku selalu beralasan sakit.
***
Hari-hari berlalu. Surat-surat tetap datang, dan Jumar sekarang yang menggantikan posisiku. Sering kulihat ia lewat membawa tumpukan amplop, dan orang-orang memanggilnya seperti dulu orang memanggilku. “Jumar, sini dulu! Ada kabar baik?”
Aku hanya mengintip dari balik jendela.
Malam-malamku kini menjadi sunyi. Lagu-lagu dari radio tak lagi enak kudengar. “Isabella…” terdengar jauh, seperti dari masa lalu yang tak bisa kucapai.
Tahun berikutnya, aku naik kelas empat. Guruku, memintaku menulis karangan tentang cita-cita. Anak-anak lain menulis: ingin jadi dokter, jadi tentara, jadi guru. Dan aku menulis: “Aku ingin jadi orang yang tidak membawa kabar apa-apa.”

Leave a Reply