Resensi Buku Sebelas – Tere Liye
Judul: Sebelas
Penulis: Tere Liye
Jum. Hal: ± 442 hal
Tahun Terbit: Mei 2025
ISBN: 978-634-70460-2-4
Resensi :
Novel ini merupakan salah satu dari banyaknya karya Tere Liye yang membahas tentang isu viral yang ada di Indonesia. Setelah adanya novel “Teruslah Bodoh Janganlah Pintar” yang menyinggung tentang perkembangan politik Indonesia, kali ini Tere Liye ingin menyinggung tentang masalah sepak bola Indonesia. Melalui novel ini, kita disuguhkan dengan latar belakang dan problematika yang terjadi dalam dunia sepakbola di dalam negeri. Mengangkat dunia sepakbola remaja, lalu membungkusnya dalam kisah kekeluargaan, persahabatan, perjuangan, kerja keras, dan harapan yang tinggi.
Sebelas, sesuai namanya, menggambarkan tentang kesebelasan tim berbakat anak bangsa yang dikumpulkan untuk bermain, dan memperkenalkan kepada kancah dunia tentang dunia pesepakbola kita. Justru bukan hanya novel semata, tetapi juga sebagai harapan tinggi bahwa, prestasi Garuda pasti akan melambung jauh.
Novel ini dimulai dengan sosok Paul, mantan pesepakbola legenda dari Eropa yang kini hidup dalam kemiskinan dan kemelaratan di Bali. Ia sering mabuk, terlilit utang, bahkan visa nya untuk pulang pun sudah lama mati. Alih-alih begitu, keajaiban membawanya melihat sebuah pertandingan di RW setempat dan mendapati seorang anak yang sangat berbakat dalam bermain bola. Anak itu bernama Samosir.
Sementara itu, ia lalu dihantui oleh bayang-bayang masa lalunya dengan kedatangan rivalnya bermain bola, David Champione yang telah memenangkan Ballon D’Or hingga empat kali. Hal itu membuatnya berambisi untuk membentuk tim yang menghimpun semua anak bangsa untuk bertanding di kancah dunia.
Lalu ia berkeliling Indonesia, mulai dari Tanah Papua ia bertemu Lorentz, pemilik Tendangan Petir Pegunungan Maoke. Beranjak ke Yogyakarta, bertemu Brantas. Ke Batur, bertemu Semeru, yang cakap bermain voli dan sepakbola. Ke Sumba, bertemu Ende, si Pemilik Tendangan Trivela. Ke Bukittingi, bertemu Gadang, Winger kanan pemilik Tendangan Pelangi Ngarai Sianok. Dan terakhir ke Pelabuhan Utara Jawa, dalam misi menyelematkan Monas, kiper handal tim ini. Dengan terbentuknya tim kokoh ini, akhirnya mereka melakukan karantina latihan selam 6 bulan penuh, dan bertanding di liga Eropa. Dengan ending yang sudah sangat tertebak.
Tapi bagiku, justru serunya dalam membaca novel ini bukan terletak di pertandingannya. Tetapi bagaimana Paul, Si Bule Gendut ini mengumpulkan pasukannya dengan berkeliling Indonesia, serta banyak tantangan yang menghadang ketika merekrut pemain ini. Semua dikemas sederhana dan perjalanan itulah yang kerap kali membuat para pembaca menyukai novel ini. Bahkan untuk yang tidak suka bermain bola sekalipun.
Novel Sebelas ini sangat relevan untuk pembaca berusia 15 tahun keatas, terutama untuk mereka yang sudah tumbuh bersama bola. Menjadi pemain, pelatih, bahkan cuma sekedar komentator. Novel ini juga tidak sedikit menyinggung tentang dunia sepak bola Indonesia yang terjadi sekarang ini. Menyoroti aspek komersial dan popularitas yang bisa mengaburkan nilai-nilai sportivitas olahraga tersebut.
Dan ketika sampai halaman terakhir, kita justru akhirnya berharap banyak bahwa suatu saat, Indonesia akan melahirkan kesebelasan pemain sepak bola yang berhasil membawa nama negara kita bersinar di kancah dunia.
Re-viewer: Imam Afsya Muhammad

Leave a Reply