Deprecated: Optional parameter $panel declared before required parameter $sections is implicitly treated as a required parameter in /home/pmikmesi/public_html/wp-content/themes/diksia/core/customizer/class-customizer.php on line 42
Mahkamah Tikus (Cerpen) – PMIK MESIR
SASTRA

Mahkamah Tikus (Cerpen)

istimewa

Jack seekor tikus muda nan bisu, sedang termenung memperhatikan air hujan menetes di gorong-gorong suram, jeruji besi yang berada  di bawah selokan pengadilan kerajaan manusia. Sementara itu manusia sedang huru-hara meneriaki demo, mendorong pagar pengadilan, menuntut kesetaraan hukum bagi masyarakat miskin.

“Bapak-bapak yang ada di sana!! Kami masyarakat miskin juga manusia!! Tidak butuh bujuk rayu saja, tapi buktikan, bebaskan nenek itu!! Dia cuma mengambil tiga potong kayu!!!”

Jack tenggelam dalam waktu penantian, 30 menit lagi akan dijemput oleh sipir penjara untuk diadili di persidangan kerajaan tikus. Karena dugaan sebagai sindikat yang bekerja sama dalam kasus pengeroyokan gadis tikus, anak petinggi kerajaan.

Entah apa yang sedang menari di bola matanya, seakan-akan pikiran Jack sedang tidak berpelukan dengan dunia nyata. Genggaman tangannya semakin kuat, gigi gerahamnya terkadang rapat lalu lemah lagi. Ada sebuah kebimbangan yang bersarang di hatinya, keputusannya sekarang seperti bola tenis yang dipukul ke sana dan kemari. Tak ada rencana yang pasti.

Seekor tahanan tikus tua, berada di penjara seberang yang tidak Jack kenali, memanggil Jack si tikus muda, “Oi…Tikus muda!! Memang begitulah awalnya menjadi orang jahat. Untungnya, makanan kita masih disediakan. Tenang saja, kita masih bisa menjadi tetangga yang sangat harmonis di sini.”

Jack memukul jeruji itu, besinya bergetar, menyebarkan dentingan suara nyaring. Menatap tikus tua yang  seolah mengejeknya. Jack berbalik ke belakang, meratap menghadap dinding. Air matanya mulai menetes, membayangkan bagaimana nasib keluarganya yang sedang kelaparan malam ini.

 Jack berjanji kepada ibunya akan langsung pulang setelah menerima gaji bulanan, upah menjaga gudang makanan para tikus. Namun, nasib malang, dia dan dua temannya ditangkap lalu dilempar masuk ke jeruji besi. Tikus pertama yang akan diadili adalah Jack. Mungkin lebih mudah diadili, tak bisa membela diri. Tak mampu berbicara.

“Anakku, kita adalah kaum tikus kecil. Saran ibu, berhati-hati ya, Nak. Jangan pernah bermasalah dengan para tikus besar. Kami menunggumu pulang, apa pun usahamu yang paling utama itu penuhi suara hati ibu, Nak. Bukan suara perut ibu.”  Nasehat ibu kepada Jack sebelum melepasnya untuk kerja lembur malam ini.

Suara ribut pendemo kerajaan manusia menemani hiruk-pikuk di kepalanya sekarang. Para penuntut keadilan. Namun, apakah mereka memang menuntut keadilan atau meminta untuk berada di atas, sebagai pejabat kerajaan.

Perang pecah di kerajaan manusia. Bergetar dunia bawah tanah dibuatnya, terdengar teriakan anak-anak manusia meminta tolong, tertawa girang juga sumpah serapah.

Bergetar dunia bawah tanah sekali lagi, bertebaran serpihan kaca di lorong penjara para tikus. Jack memperhatikan serpihan kaca itu dalam-dalam. Seketika terdengar langkah tikus yang mendekat. Segera dia mengambil satu serpihan kaca, lalu menyimpannya di dalam mulut.

Perlahan dua sipir penjara melihat wajah Jack, “Kamu Jack!!”

Jack masih terdiam, seketika bergetar badannya di hadapan tikus besar. Terasa begitu sakit, kaca tadi bergesekan di langit-langit mulutnya.

Jack diseret oleh dua sipir penjara nan gemuk. Langkah mereka bertiga agak lambat karena terhambat oleh genangan air yang tingginya sampai menutupi lutut, “Cepat jalan tikus kecil!!”

Sesekali Jack tersungkur, tak sengaja terminum olehnya air gorong-gorong nan kotor. Dua sipir itu tak ada kasihan, perintah kerajaan laksana perintah Tuhan, semua sudah pasti benar dalam logika mereka.

Di ruang sidang pintu dikuakkan, semua mata tikus memandang pada Jack. Sebelah kanan para kawanan tikus kecil, kasihan, iba melihat nasib Jack si tikus kecil bisu. Sementara sebelah kirinya para tikus besar berdasi menatap serius dan ada sebagian juga yang menyengir. Sebagian juga berbisik, “Jack si tikus kecil tak punya harapan.”

Terdengar juga suara dari kerajaan manusia, suara seorang orator demo. “Sampai kapan kalian mau ditindas saudara-saudara! Hukum mereka tumpul ke bawah, menyiksa kaum ekonomi rendah!!”

Andai saja kaum tikus kecil bisa bertenaga seperti  manusia, mungkin ada setitik semangat yang bisa muncul dari samudera nurani Jack. Namun lihatlah mereka, para kaum tikus tiada berbaju, kurus, sakit-sakitan dan tak pandai baca tulis.

Persidangan dimulai, hakim tikus besar menatap mata malang dari tikus bisu itu. Mulailah diajukan pertanyaan kepada Jack.

“Jack, apakah benar kamu ikut mengeroyok gadis itu!!” tunjuk hakim kepada gadis tikus besar yang terluka tangannya.

Jack menggeleng, tiba-tiba gadis tikus besar itu menambali percakapan, “Jika semua penjahat mengaku, pasti penuh penjara, yang mulia!!”

Semua tikus besar bersorak, “Iya benar! Iya benar!”

Hakim melanjutkan pertanyaannya, “Apa motif Anda melakukan kejahatan ini?”

Jack hanya bisa menggeleng lagi, perempuan tadi kembali menimpali, “Lihatlah tuan hakim, dia menggeleng tanpa ada pembelaan, buktinya sudah ada, tangan saya terluka. Jangan berbohong lagi tikus kecil!!”

Salah seorang kaum tikus kecil berbisik kepada teman di sampingnya, “Dia sama sekali tidak ada kesempatan untuk selamat. Hakimnya adalah paman gadis itu.”

Sekilas terdengar bisikan itu di telinga Jack. Giginya menggeletak, kaca yang berada di mulutnya mulai merobek langit-langit mulut. Mata Jack menjadi nyalang. Namun dia tetap menahannya.

Hakim melanjutkan pertanyanya, “Apakah Anda tidak punya cara untuk menyampaikan pembelaan? Mungkin menuliskan?”

Jack hanya diam, dia menutup mata lalu mulai masuk dalam memorinya. Dia hanya melaksanakan tugasnya sebagai tikus  penjaga gudang makanan para tikus. Gadis itu datang masuk ke gudang, lalu keluar dengan jumlah makanan yang melebihi ketentuan.

Salah satu teman Jack memanggil gadis itu, “Nona, berhenti!”

Lalu gadis itu mengeluarkan beberapa kepingan uang emas, seraya berbisik. “Jangan bilang siapa pun, ini untukmu.”

“Maaf nona, saya memang tikus kecil tapi harga diri saya tetap terhormat.” Tikus kecil itu menarik karung si gadis tikus. Si gadis mengeluarkan sebuah pisau, si penjaga dan nona saling tarik-menarik menghindari ujung tajam pisau.

Si gadis tikus itu kalah tenaga. Jack dengan cepat meraih kantong si gadis itu lalu memberikan kantongnya kepada temannya satu lagi untuk dimasukkan ke dalam gudang kembali.

Gadis tadi tidak terima, dia mengambil pisau, lalu melukai tangannya lebih dalam, “Kalian akan menyesal!!”

“Kami rela dihukum mati jika bersalah, kami cuma menolak pungli dan korupsi kok!!”

Sungguh sebuah kesulitan mereka ditangkap, lalu dijobloskan ke penjara yang terpisah. Dan sekarang Jack si Tikus kecil bisu, tidak tahu bagaimana caranya membela diri.

Hakim melempar pertanyaan kepada gadis tikus, “Hukuman apa yang cocok untuk dia?”

“Hukuman mati!!” jawab gadis tikus.

Terngiang di telinga Jack suara ibunya, “Penuhi suara hati ibu, bukan suara perut ibu..”

Terus terngiang, badan Jack bergetar hebat, tak ada lagi air mata yang bisa jatuh, matanya tertunduk ke bawah, mulutnya mulai meneteskan cairan merah yang amis. Kaca tadi menancap, menembus moncongnya.

Semua yang hadir melihat peristiwa itu, potongan kaca merobek mulut tikus kecil. Jack menatap sekeliling. Suara dari pengadilan manusia semakin keras.

“Penjara 10 tahun!!!” palu diketuk tiga kali.

“Hakim bayaran!! Dia hanya mengambil 3 potong kayu!!”

Para manusia ribut melempar apa pun kepada para hakim dan para pejabat. Mulai membuat huru-hara. Gas air mata pun dilemparkan oleh polisi, asap tebal mengenai semua orang. Asap itu juga menyebar masuk ke pengadilan tikus lewat celah lubang.

Berhamburan keluar semua hadirin persidangan, nenek itu diselamatkan dibawa kabur oleh beberapa orang polisi yang membelot pejabat.

Pengadilan merasakan pedihnya gas air mata, tak ada satu pun yang dapat membuka mata. Jack merasa ditarik oleh seseorang, seakan-akan tubuhnya melayang terbang, sekilas terdengar olehnya suara beberapa tikus yang tak asing, “Bertahan Jack!!”

Tubuh Jack lemah, kaca itu sudah merobek mulutnya, Jack berdialog dengan diri sendiri, “Andai aku bisa bicara.”

Hati kecilnya membantahnya, “Tak cukup, yang benar adalah andai aku seekor tikus besar.”

Gerombolan itu membawa Jack keluar dari dunia gorong-gorong yang menjijikkan. Di tengah jalan, mereka dengan gesit menghindari para pendemo yang dikejar oleh para keamanan, badan-badan kecilnya memudahkan mereka menyelinap dia antara langkahan kaki anak keturunan adam.

Para rombongan Jack melintas untuk masuk ke gorong-gorong yang lain. Nenek tua dan Jack bersilang lalu.

Petugas keamanan melakukan segala cara, mulai menembaki secara mem-babi buta. Satu persatu tumbang. Mata seorang keamanan membidik kaki nenek yang kabur dari persidangan. Badannya tumbang, Tubuh Jack dihimpitnya. Polisi yang membopong tubuhnya, membantu nenek tadi supaya tetap bisa melarikan diri. Sekali lagi tembakan dilancarkan mengenai dada seorang polisi. Polisi  dan nenek itu jatuh, tumbang ke arah Jack dan teman-temannya.

Jack tak berdaya. Teman-temannya Jack selamat dari himpitan, mereka berusaha mengeluarkan dia dari himpitan nenek itu.

Jack hanya tersenyum dan menggeleng. Memberikan isyarat kepada teman-temannya dengan tangan untuk tinggalkan dia.

Terdengar suara serak dari nenek tua yang sudah mendekati ajalnya, matanya sudah tak bisa dibuka terkena gas air mata, berbicara kepada pemuda yang menolongnya, “Pada akhirnya aku tetaplah pencuri…terima kasih sudah membela. Aku sangat bahagia masih ada yang peduli…”

Jack ikut tersenyum mendengar perkataan itu dan menyusul nenek pencuri kayu ke alam baka. Keramaian demo menghiasi kepergian mereka berdua. Sementara para alam sedang ribut dengan protes. Hukuman biar saja diatur oleh Tuhan yang Maha Adil.

Di alam lain Jack berbicara kepada si nenek, “Dalam dunia para pencuri, hanya hukum rimba yang ditegakkan, perut yang paling buncit akan selalu di depan.”

Mereka berdua tersenyum. Jika ingin hukum yang adil, maka jangan pernah menjadi salah satu dari mereka. Kaum tikus kecil mencuri makanan dari manusia dan dengan ikhlas diperbudak oleh tikus besar untuk memenuhi gudang makanan.

Nenek tua berkata, “Jack aku pencuri kayu, dan kamu juga pencuri makanan manusia, kita terjebak di dunia yang dihuni oleh para pencuri yang bermanipulasi.”

Jack tersenyum, “Bagaimana pun sekarang kita sudah tenang, tak akan melihat hukum yang tak adil lagi. Setidaknnya sekarang di alam ini, suaraku bisa didengar.”

 

Karya: Rahmat Shaleh (Kepala PMIK 2025/2026)

Post Related

Leave a Reply

Your email address will not be published.