Deprecated: Optional parameter $panel declared before required parameter $sections is implicitly treated as a required parameter in /home/pmikmesi/public_html/wp-content/themes/diksia/core/customizer/class-customizer.php on line 42
Membaca Things Left Behind: Ketika Benda-Benda Menyimpan Luka dan Harapan – PMIK MESIR
RESENSI BUKU

Membaca Things Left Behind: Ketika Benda-Benda Menyimpan Luka dan Harapan

Judul Buku  : Things Left Behind
Penulis          : Kim Sae Byoul & Jeon Ae Won
Jumlah hal   : 199 Halaman
Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : 2021
Genre             : Fiksi
ISBN              : 978-602-06-5751-6
Ulasan            :

Sinopsis

Seorang penulis yang menceritakan pengalaman pribadinya tentang beragam kisah nyata yang diceritakan oleh seorang pengurus barang peninggalan orang yang telah meninggal. Entah itu meninggal karena disebabkan alami maupun sebaliknya. Penulis mengungkap kasus-kasus yang tidak biasa. Seperti orang tua yang meninggal tanpa diketahui seorang pun, seorang anak yang meninggal karena tekanan dari orang tuanya, atau seorang pria yang membunuh seluruh anggota keluarga pacarnya dengan cara dibakar. Buku ini ditulis dengan penuh sangat lugas melalui gaya bahasanya yang sederhana. Serta menyadarkan kita tentang hal-hal yang seringkali tidak diperhatikan. Sebab, banyal hal-hal baik yang ada di sekitar kita yang masih bisa dirasakan, namun kita seringkali luput akan hal itu.

Selalu aware terhadap hal-hal kecil

‘’Apapun hidupnya. Selalu berharga’’ Kutipan yang mengajak pembaca untuk terus aware akan sekitar, terutama kepada diri sendiri. Jika dilihat dari sudut pandang penulis yang merupakan orang Jepang melalui culture budaya yang over individualis. Jadi, sikap kepekaan akan terkesan menjadi suatu yang mewah dan mahal bagi penulis, karena menunjukkan atas langkanya hal tersebut.

Berbeda dengan kita (kalau kamu orang Indonesia), tentunya budaya kita adalah saling peduli  satu sama lain, atau sekadar kepo urusan tetangga (Bukankah itu bisa dikatakan aware juga, ya?). Menurutku, justru hal ini kurang relevan di Indoenesia, sebab jarang menemukan orang-orang yang hidup masing-masing. Kadang, tetangga tidak terlihat dua sampai tiga hari saja kita sering bertamya-tanya ‘’Eh si itu kemana ya, kok akhir-akhir ini tidak keliahatan?’’. Meskipun terkesan mencampuri urusan lain, justru dari hal kecil itu mengindikasikan bahwa masih ada loh orang-orang yang aware dengan hal-hal kecil.

Penulis pun seolah ingin menyampaikan pesan moral kepada pembaca bahwa jangan pernah berhenti untuk peduli pada hal-hal yang seringkali dianggap remeh. Seperti menyapa teman yang sudah lama tidak ada kabar, bertanya keadaan orang tua atau sekadar menelfon meski hanya beberapa menit, menyempatkan waktu berkabar pada orang terkasih, keterbukaan dan tidak menyembunyikan hal apapun terhadap pasangan. Coba deh, tidak perlu setiap hari, sesekali menyapa dan berkabar pada orang-orang terdekat. Dan yang seringkali dilupakan adalah melupakan keadaan diri sendiri.

Jangan mati karena rasa sepi

Setelah penulis mengingatkan untuk selalu aware terhadap sekitar dan orang terdekat, ia juga menyampaikan melalui tulisannya yang jernih dan menyentuh. Bahwa, seseorang bisa mati karena ‘’kesepian’’. Karena yang paling mematikan selain merasa kelaparan adalah merasa kesepian. Dalam artian, merasa sendiri. Merasa hidup begitu berat dan tidak ada orang lain yang peduli.

Hidup memang tidak mudah, tapi akan lebih sulit jika semua hal dipendam sendirian. Untuk itu, cobalah sesekali perhatikan hatimu. Engga apa-apa jika seseorang sedikit memanfaatkan sifat egoisme-nya  untuk menyelamatkan kewarasan diri. Dengan takaran dan standar yang masih bisa diterima, tanpa berlebihan dan melupakan sisi kemanusiaan. Karena banyak orang yang mati dengan cara bunuh diri hanya karena tidak sanggup menghadapi kepedihan yang ditelan sendirian.

Kalau kamu capek, lelah, atau bahkan sudah ditahap muak dengan kehidupan, bunuh diri bukanlah salah satu solusi yang bisa dibenarkan. Kalau kamu merasa konsultasi ke psikolog akan mengeluarkan biaya yang cukup mahal, maka lakukan meditasi dan cara yang bisa membuat keadaan hatimu lebih baik. Entah itu sekedar makan enak, mendengar musik, menulis, jalan jauh meski tidak membeli apa-apa, yang penting jangan pernah mengurung diri dan terus-terusan meratapi nasib. Ada istilah ‘’take your time’’ yang maknanya ‘’Engga apa-apa kok, kalau kamu perlu waktu untuk meredakan suasa kecamuk hati. Engga apa-apa kok untuk sementara waktu menarik diri dari keramaian’’. Namun bukan berarti kamu sendirian dalam jangka waktu yang lama, ya. Setelah reda, jangan lupa untuk membuka diri kembali menyatu dengan alam semesta.

The Point from points

Dan point yang paling penting dari buku ini adalah jadilah pendengar yang baik, tidak apa jika tidak memberikan solusi, karena tidak semua orang yang bercerita membutuhkan hal itu. Mereka yang bercerita hanya menginginkan valiasi untuk hatinya, bukan untuk dirinya sendiri. Karena ada satu hal yang tidak boleh kita hakimi, yaitu perasaan seseorang.

Buku ini cocok untuk kamu yang ingin mengetahui lebih jauh dampak dari rasa aware terhadap hal-hal kecil. (Ting= emot ngedipin mata).

 

Penulis: Reenummi
Cairo, 04 September 2025
Space Kafe

Post Related

Leave a Reply

Your email address will not be published.