Mari Belajar Mencintai Diri Sendiri (Sebuah Resensi)
Judul : Jika Kita Tak Pernah Baik-baik Saja
Penulis : Alvi Syahrin
Penerbit : Gagas Media
Tahun Terbit : 2020
Format : viii + 208 hlm; 13 x 19 cm
Jenis Buku : Self Improvement (Pengembangan Diri)
Jujur saja, sebenarnya aku bukanlah orang yang selalu terfokus dengan dunia perbukuan bahkan tidak banyak karya-karya penulis hebat yang aku baca. Membaca buku tulisan Alvi Syahrin membuatku yang buta akan buku perlahan membuka mata untuk terus menelusuri dunia perbukuan. Siapa yang tak kenal Alvi Syahrin? Seseorang yang terkenal melalui karya-karyanya yang begitu menarik di mata pecinta buku. Tulisan-tulisannya mampu membuat sang pecinta buku semakin jatuh cinta kepada buku.
Tujuanku menulis resensi buku ini tentunya untuk melatih diriku sendiri untuk belajar lebih banyak dalam dunia kepenulisan, serta agar orang lain tahu sedikit gambaran dari buku yang akan ia baca.
“Jika Kita Tak Pernah Baik-baik Saja” merupakan buku pengembangan diri. Buku ini diterbitkan pada tahun 2020, berisi empat judul besar. Jika dijabarkan semuanya ada 203 halaman yang bermakna. Buku ini cocok menjadi teman untuk kita di kala merasa sedang tidak baik-baik saja. Harapan dari sang penulis, semoga setelah membaca buku ini kita bisa merasa lebih baik. Salah satu alasan memilih buku ini untuk menemani kala sepiku karena sang penulis memaparkan beberapa ayat Al-Quran dan Hadits, dan tentu saja karena buku ini sangat pas sekali dengan kehidupan remaja saat ini.
Sesosok pria kecil ini mulanya hanya suka bermain robot-robotan. Seiring bertambahnya usia, ia mulai meninggalkan robot-robot itu menjadi sebuah kenangan yang penuh cerita. Karena itu ia memutuskan untuk menulis, untuk berimajinasi, supaya tidak pernah kehilangan masa kecilnya.
Awalnya ia hanya menulis lirik lagu, lalu mulai memberanikan diri menulis beberapa cerpen fantasi, bahkan sempat juga menuliskan cerita horor. Namun, pada akhirnya ia kembali pada kisah-kisah remaja yang difavoritkannya. Novel pertama karya penulis asal Ambon ini berjudul “Dilema” yang terbit pada tahun 2012.
Melalui cerita dalam buku “Jika Kita Tak Pernah Baik-baik Saja” bisa membuat kita tersadar akan kesalahan kita dalam melangkah di dunia percintaan. Masalah percintaan bukanlah perihal yang mudah, makanya dibutuhkan untuk kita membaca buku-buku seperti karya Alvi Syahrin ini. Hebatnya, ia bisa menuturkan kata-kata yang membuat kita tertampar dengan fakta dan kenyataan. Hebatnya lagi, buku ini mengandung banyak pelajaran buat remaja-remaja yang sedang dilanda asmara pada umumnya. Buku ini juga mengajarkan kita bagaimana cara kita mencintai diri sendiri.
Dari awal halaman sampai akhir halaman buku ini, mataku tertuju pada kata-kata di beberapa halaman buku, salah satunya ada di halaman lima puluh dua “Bagaimana mau melupakan kalau memiliki saja enggak pernah?” begitulah penggalan bait yang membuat mataku tertuju fokus untuk terus membacanya berkali-kali. Pikirku ada benarnya juga tentang apa yang ditulis oleh penulis buku ini, remaja saat ini biasanya selalu ingin melupakan seseorang yang pernah ia kagumi, tapi memiliki saja tidak pernah. Penggalan bait ini didedikasikan oleh sang penulis untuk orang-orang yang tidak pernah memiliki tapi tetap sakit, cemburu tapi tidak berhak cemburu, dan buat orang-orang yang cinta secara diam-diam bahkan tidak akan pernah jadi kenyataan.
Jangan menunggu penyesalan orang di masa lalu, itu sama saja dengan kita mengharapkan sesuatu darinya atau sama saja dengan kita menunggu kabar darinya. Tinggalkan saja dunia masa lalumu, mulailah mencari cinta sang pencipta, jika cinta sang pencipta sudah kita dapatkan, maka cinta dari hamba-Nya itu urusan yang mudah. Jangan lupa juga untuk mencintai diri sendiri, bagaimana orang lain mau mencintai kita? Sedangkan kita saja tidak mencintai diri sendiri. Ini adalah sedikit perkataan Alvi Syahrin yang aku kutip dan sedikit aku tiru dari buku “Jika Kita Tak Pernah Baik-baik Saja”.
Penulis: Dian Safitri

Leave a Reply