Tilikan Buku: Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi
Judul: Perempuan Patah Hati
Penulis : Eka Kurniawan
Penerbit : Bentang Pustaka
Tahun terbit : 2020
Format : vi + 170 halaman || 20,5 cm
Jenis Buku: Sastra Fiksi
Membaca buku karya Eka Kurniawan emang cukup bikin ketagihan, apalagi bagi mereka yang ingin merasakan nuansa berbeda, tidak klise, dan “di luar jalur”. Banyak para pembaca (muda-mudi) yang selalu bergairah dalam cerita-cerita romansa. Memenuhi hasrat keindahan bercinta ala-ala drama sepasang kekasih yang kalau tidak berakhir sedih, ya, berakhir bahagia.
Barangkali Eka tidak terlalu suka hal yang popular dan itu-itu saja. Apalagi menargetkan pasar pembaca buku. Itu dibuktikan dengan beberapa tulisannya yang bergaya lawas-klasik (cukup binal). Ia pernah membuat tulisan cerpen yang gaya penulisan kata dan kalimatnya berupa ejaan lama; Van Ophuijsen, dalam bukunya berjudul “Cinta Tak Ada Mati”. Padahal tulisan itu ia buat pada tahun 2005.
Sementara kita tahu bahwa Ejaan Van Ophuseijsen digunakan pada zaman kolonialisme Belanda, berlaku pembakuan awalnya pada tahun 1901 oleh Prof. Charles van Ophuijsen yang dibantu oleh Nawawi Soetan Makmoer dan Moh. Taib Sultan Ibrahim, kemudian berakhir, lalu digantikan oleh ejaan Republik pada 19 Maret 1947. Seakan-akan Eka hendak berkata kepada pembaca baru, “Hei! Di Indonesia ini pernah ada perubahan ejaan bahasa. Cerita yang ‘kau baca dengan kesulitan ini pernah berlaku pada masanya.”
Buku “Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi” merupakan karya antologi cerpen yang pernah ia tulis di beberapa media; Kompas, Koran Tempo, Esquire Indonesia, Playboy Indonesia, dan Media Indonesia. Salah satu cerpen di buku ini ada yang ia sadur dari cerita Arabian Night yang berjudul The Ruined Man Who Became Rich Again Through a Dream, terjemahan Sir Richard F. Burton.
Pria kelahiran Tasikmalaya ini menyajikan beberapa cerita dengan gaya beragam; Fabel, Epos, Parabel, Paralel, dsb. Cerita Fabel yang tertuang dalam bukunya ini berjudul “Kapten Bebek Hijau”. Cerita ini mengisahkan anak bebek yang lahir di keluarga bebek berwarna kuning.
Awalnya anak bebek ini terlahir normal seperti induknya dan saudaranya. Hingga suatu hari ia memakan buah Mogita yang sangat beracun. Beruntung anak bebek ini tidak sampai mati, karena ia makan buah itu sedikit saja. Walaupun begitu, akibat makan buah tersebut, meski bulu si anak bebek berubah menjadi hijau. Dengan perubahan aneh ini, ia merasa bersedih dan sempat tidak enak hati dengan spesies lainnya. Kemudian ia diberi tahu induknya bahwa ada satu cara untuk mengubah kembali warna bulunya, yaitu dengan memakan ‘kunir raja’ yang ada di puncak bukit.
Dalam proses membaca cerita ini sampai akhir, saya sempat menduga bahwa cerita ini ditutup dengan happy ending, yang mana ia akhirnya tidak mendapatkan sama sekali kunir raja itu. Yang ia dapat adalah pengalaman yang super luar biasa, bisa menempuh perjalanan jauh, penuh rintangan, dan harus menghadapi berbagai pemangsa. Kemudian ia kembali ke habitatnya dengan membusungkan dada berlagak layaknya super hero.
Eka menepis ekspektasi ini. Ia mengakhiri cerita itu dengan tewasnya anak bebek tersebut disambar elang untuk makan siang. Walaupun begitu, di sini ada pesan moral yang disisipkan Eka, yaitu “berbeda itu tidak selamanya buruk dan aneh”. Kadang dalam perbedaan ada kelebihan yang belum kita ketahui. Seperti Kapten Bebek Hijau ini. Selama perjalanan ke puncak bukit, ia terselamatkan dengan penyamaran warna hijau bulunya dengan kondisi alam sekitarnya hingga ia bisa menghindar dari ular dan serigala dengan mudah. Semestinya ia menyadari kelebihan ini di awal. Tapi karena sifat ambisius untuk berubah dan kembali ke kondisi yang gitu-gitu saja dan tidak menerima perbedaan, akhirnya ia tewas dengan konyol.
Contoh cerita yang bergaya Parabel adalah cerita yang berjudul “Cerita Batu”. Di dalam cerita ini, Eka menceritakan perjalanan tragis sebuah batu yang awalnya berukuran sebesar kepala bayi akhirnya terkikis oleh waktu dan fenomena yang ia alami. Sebongkah batu ini digunakan dalam rencana pembunuhan. Pembunuhan pertama terjadi untuk menenggelamkan seorang perempuan telah dibunuh kemudian diceburkan ke dasar danau.
Pembunuhan kedua direncanakan oleh seorang perempuan yang ingin membunuh suaminya, yang mana suaminya ini merupakan biang keladi pembunuhan di awal, untuk mendapatkan harta warisan dari lelaki tua. Di sini bentuk batu itu sudah mengalami perubahan yang awalnya besar menjadi kecil seperti kelereng, kemudian digunakan agar sang suami bisa terpeleset jatuh terhempas ke lantai.
Masih banyak lagi cerita lainnya yang ditulis Eka dalam buku ini dengan nuansa yang berbeda satu sama lainnya. Ada cerita yang berbentuk semacam misteri berjudul “Teka-teki Silang”. Ada cerita yang beraroma binal dan sensual, seperti yang berjudul “Gincu ini Merah, Sayang”, dan cerita yang berjudul “Jangan Kencing di Sini.” Ada lagi cerita Thriller seperti “Membuat Senang Seekor Gajah”, “Tiga Kematian Marsilam”, dan “Membakar Api”.
Uniknya, walaupun di awal-awal kita sudah disajikan cerita yang tragis, ngeri, misterius, binal, dan sensual, Eka menutup bukunya dengan cerita yang cukup sedih, cerita yang mengaitkan keluarga cemara dan kematian seorang ayah yang agamais. Kalau boleh saya berkata kepada Eka, “Dasar Eka. Bisa-bisanya kau membawaku ke sana ke mari penuh ketegangan, sedikit terangsang, tersenyum aneh, dan mind blowing. Kemudian kau mengajak untuk memikirkan orang tua dengan kematian dan jasa-jasa seorang ayah.” Mungkin hampir tidak ada orang yang tidak sedih selama menyangkut keluarga, terlebih tentang ibu dan ayah.
Note:
Saya menggunakan term ‘Tilikan Buku’ karena berkiblat pada istilah yang acap kali digunakan oleh Presiden pertama Indonesia, Ir. Sukarno. Dalam buku Muhidin M. Dahlan yang berjudul Inilah Resensi; Tangkas Menilik dan Mengupas Buku, menyebut dalam sub judulnya dengan “menilik buku ala Putra Sang Fajar, Soekarno”. Di sini M. Dahlan membeberkan cara dan karakter Sukarno dalam meresensi buku. Sukarno adalah seorang pembaca. Memang begitu orang-orang zaman dahulu, para pejuang bangsa kita sangat gemar dalam membaca. Pun Wakil beliau, Mohammad Hatta, adalah seorang pembaca dan pengulas buku juga. Mohammad Hatta sendiri juga punya term dalam menyebut resensi buku, yaitu ‘kupasan buku’. Jangan pernah anda membandingkan dan menyamakan wakil presiden kita dulu yang gemar membaca dengan seorang wakil presiden yang katanya berasal dari negara Wakanda. Sangat beda jauh. Punya wakil presiden kok tak hobi baca, malah hobi koleksi mainan. Gawat.
Peresensi : Rahmat Saleh Hutasuhut
Kekeluargaan : KMJ Mesir
Jurusan : Akidah-Filsafat.

Leave a Reply