Deprecated: Optional parameter $panel declared before required parameter $sections is implicitly treated as a required parameter in /home/pmikmesi/public_html/wp-content/themes/diksia/core/customizer/class-customizer.php on line 42
Duduk Dulu (Sebuah Resensi Buku) – PMIK MESIR
RESENSI BUKU

Duduk Dulu (Sebuah Resensi Buku)

istimewa

Judul Buku                 : Duduk Dulu
Penulis                         : Syahid Muhammad
Penerbit                       : Gradien Mediatama
Tahun Terbit               : 2021
Tebal Halaman           : 236 halaman

Tujuan dan Latar Belakang

Satu hal yang dihadirkan penulis lewat buku ini ialah memanggil semua kutu bukunya untuk menapaki diri lebih jauh lagi, menganalisis diri yang kadang lupa untuk duduk dulu dan kembali menjadi manusia seutuhnya. “Duduk Dulu” ditulis dengan sangat hangat bahkan pembaca serasa didekap erat seakan memiliki nyawa. Makna pulang yang disuguhkan bukan lagi sekadar singgah atau rehat, melainkan membawa bekal berupa beban pikiran yang selayaknya ditaruh, kemudian duduk, dan berteman. Lalu mencoba mendengar bahwa jiwa sedang butuh apa.

“Terima kasih sudah berjuang sebaik ini, sudah bertahan sehebat ini. Terima kasih sudah berkenan mendengar jiwa sedang butuh apa.” Buku ini tak hanya menceritakan diri sedang butuh apa, melainkan mengajarkan perihal mengerti bagaimana memahami bahwa semesta tidak hanya tentang dirimu dan juga masalahmu. Ada bagian orang lain di sana.

“Belajar sembuh seiring tumbuh,”  sebuah mantra yang memang dibuat sebagai ajakan untuk bersama merawat mental agar sembuh dan juga tumbuh dengan baik. Di dalamnya tidak akan ada tokoh-tokoh fiksi yang akan menjadi idola para pembaca. Namun, lebih banyak menggambarkan tokoh inspiratif yang tak pernah kenal mundur. Di tengah banyaknya manusia yang merasa insecure dan overthinking, buku ini malah mengajak kita untuk lebih mengenal dan mencintai diri sendiri (self love).

“ Hey. Makasih sudah berjuang. Sekarang dengarkan diri perlu apa, kasih yang manis-manis. Tubuhmu berhak mendapat apresiasi dan dicintai dengan romantis juga. Setidaknya oleh dirimu sendiri.” Begitulah ucapnya di penghujung paragraf.

Analisis:

  • Keakuratan informasi.
  • Analogi dan pesan yang terdapat dalam buku ini bukan sekadar opini penulis. Namun, merujuk kepada kejadian nyata di sekitar kita, sehingga tulisan yang disajikan pun sesuai dengan realita yang ada.
  • Kerangka tulisan yang digunakan dalam tiap paragraf juga cukup runtut, diawali dengan kebisingan dan untaian pengharapan. Lalu dilanjutkan paragraf selanjutnya apresiasi diri sendiri.
  • Gaya bahasa yang digunakan membuat buku ini mudah dipahami oleh pembaca. Kendati demikian, tetap tidak mengurangi esensinya sebagai buku yang ramah dengan suguhan kata yang sarat akan maknanya.
  • Pendekatan analogis yang dibawakan sangat menarik. Dimulai dari diri yang hancur, diri yang disakiti, diri yang bangkit, dan diri yang ujungnya berteman dengan semua kebisingan-kebisingan yang ada. Lalu diselipkan pesan di dalamnya untuk saling sadar tentang apa yang tidak bisa diusahakan harus diterima dengan keikhlasan.

Kelebihan dan Kekurangan

Meskipun buku ini disajikan dengan diksi-diksi dan pembendaharaan kata yang mudah dipahami. Namun, sub-bab di dalamnya terkesan diulang-ulang, sehingga pembaca kebingungan ketika membaca tulisannya secara acak atau tidak beruntun. Dengan adanya ilustrasi pelengkap dan peletakan tulisan yang pas, buku ini menghadirkan nuansa teman cerita serta melahirkan kembali pemikiran kita mengenai apresiasi diri dan mencintai diri sendiri.

 

Penulis: Rahma Warda Salsabila

Post Related

Leave a Reply

Your email address will not be published.