KATA; ANTARA TENANG & LUKA
Pernah enggak sih, kamu ngerasa jahat sama dirimu sendiri? Karena berkata seolah-olah kamu bahagia padahal hati kecilmu tidak merasakan hal yang sama. Pernah enggak kamu di posisi sebagai pendengar? Namun, mulutmu seakan tak sabar ingin memotong perkataan lawan bicaramu, atau bisa jadi kamu adalah korban dari lontaran kata orang lain padamu, jika iya, maka tulisan ini sangat cocok untuk kamu baca, karena dari sebuah kata, terkadang hati menjadi tenang, tapi kadang tanpa sadar ia terluka begitu dalam.
Kali ini kita akan membahas sebuah buku dari Kim Yu-jin tentang betapa indahnya menjadi diri sendiri apa adanya. Tak perlu harus memenuhi ekspektasi orang lain yang kadang membuatmu lupa akan kebahagianmu sendiri. Pada akhirnya menjadikan bahagiamu hanyalah ketika orang lain bahagia. Terlihat indah, tapi sejatinya tidak. Jika kamu tak percaya, maka tanyakanlah pada hati kecilmu apakah dia bahagia atau tidak?
“Terima kasih sudah mengatakannya“ begitulah judul dari buku kali ini, sebuah buku terjemahan dari versi aslinya yang berbahasa korea, berjumlah 259 halaman. Kim Yu-jin menyajikan sebuah penawar akan kata yang kadang terasa menyakitkan. Buku ini terdiri dari enam bab, dengan empat puluh tiga sub bab, yang menyajikan bahasan-bahasan seru akan dunia komunikasi yang terasa begitu relate dengan keadaan manusia saat ini. Mungkin buku ini bisa membantumu untuk membangun komunikasi yang lebih baik, sehingga kamu maupun lawan bicaramu merasakan kepuasan yang sama, karena dari komunikasi yang baik akan melahirkan hubungan yang baik pula.
Di awal buku ini, kita akan diajak merenungi bagaimana pola komunikasi kita saat ini. Sudahkah kita menghadirkan wajah dari lawan bicara kita? Justru kitalah yang mendominasi pembicaraan tersebut atau malah merasa bahwa lawan bicara tak paham dengan apa yang diutarakan, seakan dia tak peduli dengan apa yang kita rasa.
Kita tahu bahwasannya komunikasi tidaklah terbangun dari satu orang saja, setidaknya ada dua orang yang saling berbagi kata sehingga lahirlah sebuah obrolan. Dari sini kita tahu bahwasannya kita tak sendiri, oleh karenanya hadirkanlah sosok lawan bicara kita, jangan egois dengan mendominasi, lalu menghakimi tatkala perkataan lawan bicara kita tak sesuai dengan apa yang kita mau. Karena kadang sebuah kata yang terlihat biasa saja bisa sangat terasa menyakitkan tatkala kita hanya melihatnya dari satu sudut pandang saja, itulah sebabnya mengapa hubungan baik kadang tak bertahan lama.
Setelah komunikasi terjalin baik, dengan kita menyadari porsi kata masing-masing, maka masalah selanjutnya adalah untain kata yang terucap dari diri kita, selaraskah ia dengan apa yang kita rasa, atau justru malah sebaliknya. Karena kadang kita malu mengatakan realita yang sebenarnya, takut orang lain akan menghina, jikalau mereka tahu bagaimana kehidupan kita yang sesungguhnya, terlebih di zaman sekarang, di saat semua orang seakan berlomba memamerkan pencapainnya.
Menjadi diri sendiri sejatinya adalah pilihan yang paling tepat, mengatakan yang sebenarnya bukanlah sesuatu yang salah, namun kadang kebanyakan dari kita justru takut mengutarakan realita, dengan alasan orang lain tak suka. Apa iya orang tak suka dengan kejujuran, justru semua kita sangat menginginkannya bukan ? Jadi hiduplah apa adanya, katakan realita yang sesungguhnya, agar ketenangan senantiasa ada.
Kemudian ada tiga hal berharga yang menurut kami patut untuk kita renungkan :
- Saat kita tak terpengaruh dengan pujian maka kritikan bukanlah sesuatu yang menyakitkan
Manusia adalah makhluk yang haus akan pujian, tapi kadang tak rela akan kritikan. Sadarkah kita bahwa rasa sakit yang datang karena kritikan adalah akibat dari keinginan untuk selalu dipuji dan di pandang? Wahai kawan, ingatlah bahwa kita hanyalah hamba dan pujian hanya pantas untuk sang pencipta, jadi jangan terbang tatkala engkau di puji, agar engkau tak tumbang tatkala di caci.
- Mengakui bahwa kita tak selalu benar
Dalam percakapan terkadang hati selalu ingin dibenarkan, tapi sadarlah bahwa kita adalah makhluk yang penuh akan noda, jadi tatkala ada orang yang meluruskan dan membenarkan apa yang kamu katakan, terimalah dan akui bahwa kamu tak selamanya benar. Ada masa dimana kita akan berjumpa dengan orang yang lebih baik dari kita. Oleh karenanya, tetaplah merendah karena diatas langit masih ada langit.
- Sadar bahwa kita tak akan mampu memahami orang lain seutuhnya
Mau sebagaimana pun usaha kita untuk membuat lawan bicara suka dengan apa yang kita katakan. Pada akhirnya, kita tak akan mampu memahami mereka seutuhnya, karena kita bukan Tuhan yang tahu segalanya, oleh karenanya nikmatilah percakapan yang ada sehingga bahagia akan terasa nyata.
Penulis: Muhammad Naufal

Leave a Reply